Kamis, 19 Juni 2008

Berkomunikasi Lewat Musik

Iga Mawarni

Sesuai janji, pagi itu penyanyi jazz yang bernama lengkap Iga Mawarni Ayuningsih yang terkenal lewat lagu Kasmaran di era 90-an ini ditemui ditengah rutinitasnya mengantar putra semata wayang, Rajasa Satria Tama ke Sekolah Standar Nasional (SSN) kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. “Kegiatan Saya sekarang antar jemput anak sekolah dan masih ada kegiatan tour jazz. Selain itu, kebetulan Saya sekarang ini tergabung dalam kelompok musik 5 wanita,” ungkap istri Charles R. arifin.

Lima Wanita untuk Memotivasi Wanita

Wanita kelahiran Bogor, 24 Juli 1973 yang akrab disapa Iga Mawarni ini pun bercerita tentang proses terbentuknya Kelompok Musik 5 Wanita (KM5W) ini yang terdiri dari ia sendiri, Rika Roeslan, Yuni Shara, Nina Tamam dan Andien. Terinspirasi dari lagu ciptaan Rika Roeslan yang menjadi bagian dari albumnya yang berjudul Wanita. Secara pribadi, Rika merasa lagu ini layak diperdengarkan pada wanita Indonesia karena syairnya yang bagus dan akan memiliki kekuatan yang besar bila dinyanyikan bersama. Akhirnya, lagu itu diperdengarkan pada Kita sahabat-sahabatnya. Setelah Kita nyanyikan bersama, Kita merasakan ada energi yang besar sekali dan kata-kata pada syairnya bagus sekali, seperti pada reff nya :

Oh Wanita jangan kau lupa ada sinar dalam dirimu harus kau jaga

Oh Wanita kecantikanmu terpancar jelas dari dalam ruang hatimu

Kalimat ini dapat memotivasi wanita dalam bentuk latar belakang, bentuk fisik dan keadaan apapun. Kita harus menyadari itulah kecantikan dan kekuatan dari diri kita dalam menghadapi semua masalah dan masa depan. “Setelah Kita menyanyikan, ternyata ada satu hati bahwa Kita bermanfaat untuk hal yang lain. Dengan menyanyikan lagu ini, Kita membuat orang lain senang apalagi Kita datang membawa informasi yang baik,” tutur putri pasangan Subaningsih dan Saliman Tedjo Siswoyo ini.

Meskipun KM5W ini baru akan di launching pada April bertepatan dengan Hari Kartini yang merupakan kebangkitan kaum wanita sudah banyak instansi terkait dan produsen yang mengajak kerjasama, seperti PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), Yayasan Kanker Indonesia dan beberapa brand. Rencananya setelah bulan April ini, KM5W akan mengadakan roadshow ke beberapa kota di Indonesia dengan membuka klinik gratis pemeriksaan dini alat reproduksi wanita sekaligus sharing dengan para wanita, baik remaja maupun dewasa di daerah tersebut. Kebetulan, dalam KM5W ini dari usia memiliki gradasi, ada yang masih gadis, ada yang baru menikah, ada yang sudah memiliki anak dan ada yang pekerja keras diusia yang matang belum menikah. “Ada banyak yang bisa di share karena banyak juga wanita Indonesia seperti ini dan Kita mengajak mereka datang tanpa dipaksa serta berdialog tanpa batas,” Kata Iga mengenai program dari KM5W.

Juara Nasional Bintang Radio dan Televisi tahun 1989 ini pun menegaskan bahwa KM5W ini memiliki prinsip ‘sekecil apa pun jauh lebih bermanfaat daripada banyak omong’. Jika ini dilakukan, bukan tak mungkin akan menjadi komunitas yang besar di Indonesia, “Kita tidak bicara gender. Kita hanya bicara soal kesehatan dan mempercantik diri.

Musik Jazz, Musik General

Sebagai penyanyi jazz, hingga kini artis yang memperoleh AMI Award pada 1999 untuk Kategori Album Jazz Terbaik masih aktif dalam menyiapkan berbagai konser jazz, seperti Java Jazz dan Jak Jazz. Iga melihat, animo anak muda terhadap musik jazz kini luar biasa dan selalu membludak pengunjungnya meskipun harga tiketnya mahal.

Pada acara Java Jazz yang digelar setiap tahun, terlihat jumlah stage yang bertambah dan bermunculan grup baru dengan personil anak muda. Hampir semua perguruan tinggi negeri dalam agendanya selalu ada event jazz. “Berarti mereka menganggap bahwa musik jazz sudah merupakan nadi mereka bahwa musik jazz adalah musik general yang mampu memberi ruang buat siapa pun dan usia berapa pun karena sangat mengikuti perkembangan,” jelas pemeran wartawati dalam Sinetron TAJUK arahan sutradara Slamet Raharjo seraya menambahkan, Kita dapat memilih musik yang sesuai dengan selera, apakah smooth, pop jazz, swing, bosanova, samba, salsa atau fusion. “Buat Saya, jenis tidak penting. Yang penting bagaimana menikmati sesuatu karena sudah menjadi bagian dari hidup.”

Aware pada Seni Tradisional

Selain sebagai ibu rumah tangga dan menyanyi, wanita yang besar di kota Solo ini juga dipercaya menjadi Ketua Yayasan Dedy Lutan Company (DLDC), suatu komunitas tari tradisi yang menggarap pertunjukan tari tradisi dan membuat observasi serta kajian potensi-potensi kesenian di wilayah Indonesia. Iga melihat potensi seni dan budaya merupakan satu-satunya asset yang bisa dibanggakan. “Saya khawatir dan prihatin, suatu saat tidak ada lagi yang tertarik menggarap tari-tari tradisi. Karena itu, perlu didorong.”

Dalam kegiatan pendidikan anak-anak dan musik-musik tradisi, wanita berambut panjang ini memegang amanah sebagai Sekjen Solo International Ethnic Music Festival (SIEM) tahun 2007 yang diadakan di Benteng Vastenburg, Solo diikuti 8 negara dan musisi etnik tradisi di Indonesia. Dengan misi mendorong setiap anggota masyarakat untuk aware. Untuk itu, disusun program yang mampu menggelar pertujukan musik tradisi berskala internasional dan spektakuler. “Untuk kepanitian seperti ini, saya selalu mengulirkan kepanitiaan yang sifatnya seperti Event Organizer (EO), tapi komunal dengan rasa memiliki. Sehingga mereka menjadi public relation, marketing, penonton, pengkritik dan penikmatnya sekaligus,” jelasnya karena sistem seperti ini dapat bertahan lama dibanding EO.

Artis yang memiliki philosofi ‘hidup tidak bisa menunggu, jangan sia-siakan waktu’ ini juga menjabat sebagai Ketua Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) yang merupakan bentuk penghargaan tertinggi pada pengabdi musik yang berjasa bagi perkembangan musik tanah air.

Mengakhiri perbincangannya, Iga yang memutuskan menjadi mualaf pada usia 19 tahun ini kembali menegaskan bahwa aktivitas menyanyi yang dilakukannya sekarang ini bukanlah untuk popularitas, tapi memanfaatkan musik sebagai media untuk mengkomunikasikan sesuatu pada orang lain. Baginya, jembatan yang paling netral untuk berkomunikasi di ranah apa pun adalah seniman. Mereka sering berhadapan dengan publik sehingga mempunyai gaya bahasa dan gaya tutur yang lebih rileks serta dapat menggantisipasi keadaan dengan spontan dan dapat mencairkan suasana. “Karena itu bakat yang diberikan Tuhan pada seniman dan saya mensyukurinya. Saya bisa membantu mengkomunikasikan hal-hal yang baik kepada masyarakat.” (yuko)

Tidak ada komentar: